Kamis, 21 April 2011

agama jaina

AGAMA JAINA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Seorang ahli falsafah bangsa India berkata mengenai Agama Jaina. Ia adalah suatu gerakan pemikiran yang bebas dari kekuasaan Weda-Weda, mempunyai sifat pemikiran Hindu umum, bangunannya didirikan atas asas takut dari pengulangan kelahiran dan lari dari kehidupan karena berlindung dari keburukan-keburukannya, puncaknya adalah zuhud dalam kebaikan hidup karena rasa takut dari bahaya-bahayanya,
tiangnya adalah latihan berat dan pengawasan diri yang melelahkan, pegangannya adalah tidak peduli kepada kenikmatan dan kepedihan, caranya adalah berhemat cermat dalam hidup, jalannya adalah ketuhanan tetapi bukan ketuhanan brahma. Para pengikut agama Jaina mengobati keinginan dan perasaan-perasaan dengan membinasakannya. Mereka memadamkan api kehidupan dengan tangan mereka sendiri dan mereka
kehilangan penyelamatan diri didalam wujud tanpa disengaja dan dalam kegembiraan tanpa disadari.
Makalah ini berisi penjelasan tentang sejarah agama jaina itu sendir, pemimpin agama jaina, ajaran dan kitab suci agama jaina itu sendri. Mungkin hal ini penting diketahui dikarenakan dasar ilmu perbandingan agama adalah mengetahui corak agama-agama yang telah muncul sepanjang kehidupan manusia di bumi ini.

B. Rumusan masalah
1. Bagaimanakah agama jaina terbentuk?
2. Siapakah pendiri agama jaina?
3. Bagaimana ajaran agama jaina kepada penganutnya?
4. Bagaimanakah ajaran kitab suci agama jaina?





BAB II
PEMBAHASAN

A. SEJARAH AGAMA JAINA
abad ke 6 SM masehi telah terjadi perkembangan pemikiran manusia yang sangat menganggumkan di India. Di abad ini telah melahirkan seorang tokoh yang sangat mengagumkan dan menggemparkan India pada waktu itu karena pemikirannya yang mulai mempertanyakan kebenaran agama yang telah berabad-abad dianut oleh nenek moyangnya dan seluruh rakyatnya.
Ia adalah mahavira (599-527), ia adalah seorang reformer agama hindu yang mengubah pemikiran agama hindu kearah yang lebih tinggi nilai falsafahnya dibandingkan pemikiran agama hindu sebelumnya. Ia berpendapat bahwa kehidupan ini sengsara, hidup didalam dunia adalah neraka, perubahan dan kelenyapan adalah asas kehampaan dan puncak penderitaan. Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya mahavira tidak pernah mengajarkan sebuah ajaran yang keluar dari ajaran hindu hanya saja ia menentang system kasta dalam hindu, walaupun ia pada akhirnya melahirkan agama jaina dan tidak bisa menolak system pengakastaan yang ada.
Agama jaina ini sendiri muncul lebih dikarenakan pertentangan antara kasta brahmana dan kasta ksatria yang ingin memperebutakan kekuasaan atas umat hindu. Sedangkan jaina sendiri bermakna penaklukan. Maksudnya dari agama penaklukan(spiritual) ini sendiri adalah penaklukan kodrat-kodrat syahwati didalam tatahidup manuisawi. dan Jainisme adalah salah satu ajaran paham jaina di india, yang golongkan ke dalam nastika (heterodoks) karena tidak mengakui otoritas veda. Tradisi yang dikembangkan adalah heterodoks , atheisme namun spiritual.
Para pengikut jaina berpendapat bahwa agama jaina adalah suatu madzhab yang amat lama dan telah cukup sempurna tatkala berada pada tangan jaina yang ke 24 yaitu mahavira. yang pertama bernama rasabha, lahir sejak zaman purbakala dan sejarah tidak menyebutkan sesuatu tentangnya, hanya sebagian kisah dongeng yang saja yang menghubungkannya. setelah itu lahirlah jaina-jaina yang lain hingga pada akhirnya pada jaina ke 23 yaitu parsuanath yang dilahirkan pada abad ke 9 SM dan meninggal dunia pada abad ke 8 SM. Dan pada abad ke 6 SM lahirlah nataputta vardhamana atau lebih dikenal mahavira yang telah membangun landasan agama jaina lebih kuat dibangdingkan parsuanath. Disini mahavira memang mengembangkan pemikiran parsuanath dengan menambahkan lagi pikiran-pikiran baru, dan ilham-ilham serta pengalamannya.
Disini mahavira sebenarnya bukanlah pendiri agama jaina, ia hanyalah mengajarkan apa-apa yang ia dapat dari pendahulu-pendahulunya, namun dia telah berjasa besar dengan meletakan dasar agama jaina sebagai agama yang lebih kuat dari sebelumnya, di sini ia memiliki orientasi baru dalam agama jaina, sehingga ajaran-ajarannyalah yang membesarkan ajaran agama jaina di abad-abad selanjutnya.

B. PEMIMPIN AGAMA JAINA
mahavira adalah sebutan bagi jaina ke 24 atau Tirthankkara ke 24, namun nama aslinya adalah vardhamata, yang artinya berlebih-lebihan. Ia memperoleh nama tersebut dikarenakan ia lahir dikalanngan kaum ksatria dan saat ia dalam kandungan ibunya, kehidupan keluarganya penuh dengan kebaikan dan kemewahan. Sedangkan Sebutan mahavira sendiri sebenarnya sang pahlawan besar atau perwira perkasa. Hal ini dikarenakan mahavira adalah jaina teragung, yang memiliki banyak pengikut.
Mahavira dibesarkan ditengah-tengah keluarga yang besar, yang penuh kemewahan dan kesenangan. Dari masa ke masa keluarganya selalu menyambut kedatangan rombongan ahli agama dan ahli ibadah, karena rombongan ini mendapati rumah amir ini, mereka menumpang dengan baik dan disambut dengan tangan terbuka. Dan sejak kecil mahavira gemar mengikuti majelis mereka dan senang mendengar kata-kata hikmah serta ajaran-ajaran mereka, sehingga ajaran falsafah yang mereka ajarkan juga mempengaruhi diri mahavira. Karena rasa ketertarikannya itu maka ia mulai mendalami tentang ketuhanan dan kehidupan zuhud serta persemedian. Namun karena kedudukan keluarganya yang sangat penting dalam pemerintahan maka keluarganya tidak terlalu mendukungnya untuk melakukan ajaran agama semakin dalam lagi.
Karena paksaan keluarganya maka mahavira menikahi seorang gadis yang dicalonkan oleh keluarganya yang bernama yasoda dan dikaruniai seorang anak yang bernama anuja. Hal ini sangat menyiksa dirinya karena keinginan utamanya adalah sebenarnya mendalami ketuhanan namun semasa ayahnya masih hidup ia tak berani menunjukannya, demi menyenangkan ayahnya.
Namun tatkala kedua orangtuanya meninggal dunia, maka ia memiliki kesempatan untuk memenuhi hasratnya yang telah lama dipendam, yaitu ingin hidup zuhud dan bertapa. Mahavira meminta saudaranya untuk memegang jabatan yang di tinggalkan ayahnya, serta meminta izin untuk meninggalkan gelar kebangsawanannya demi mendalami agama. Namun saudaranya khawatir orang-orang akan menyangka mahavira melakukan hal itu karena siksaan yang disebabkan oleh keluarganya maka ia meminta mahavira untuk menangguhkan keinginannya tersebut. Namun tatkala tiba saatnya yang telah ditetapkan, diadakanlah suatu pertemuan besar dibawah pohon asoka dengan dihadiri seluruh anggota keluarga dan penduduk negri. Mahavira mengumumkan keinginan mahvira untuk meniggalkan gelar kebangsawanannya, kerajaannya, dan seluruh yang ia miliki, untuk menyediri dalam zuhud dan persemedian. Inilah awal kehidupan rohaninya secara nyata. Dia menanggalkan pakaiannya yang indah, perhiasannya, mencukur rambutnya dan mulai kehidupan baru, umurnya pada waktu itu baru 30 tahun.

C. KEPERCAYAAN AGAMA JAINA
Ajaran agama jaina ini adalah menekankan aspek etika yang sangat ketat, terutama komitmennya terhadap konsep ahimsa. Di katakan oleh para sarjana, konsep ahimsa inilah yang banyak mempengaruhi ajaran-ajaran berikutnya, seperti Buddha, bhagadgita, dan sebagainya. Menurut tradisi jaina, garis perguruan yang sangat panjang sejak zaman pra-sejarah diturunkan dimana keyakinan ajaran ini diteruskan dari satu generasi kegenerasi berikutnya. Guru-guru yang telah meneruskan ajaran-ajaran jaina ini berjumlah dua puluh empat orang, yang disebut Tirthangkara atau penyebar keyakinan.
agama jaina tidak mempercayai tentang tuhan, dikarenakan agama jaina ini sendiri adalah suatu gerakan yang menentang agama hindu. Mahavira menegaskan bahwa didalam alam ini tidak ada ruh mahabesar dan ruh agung. Disinilah agama jaina ini dinamakan agama ilhad( tidak mempercayai adanya tuhan). Agama jaina mempercayai bahwa setiap yang wujud, baik manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan batu-batuan adalah tersusun dari badan dan ruh. Setia ruh itu kekal dan bersendiri mengalami hokum pengembalian kembali.
Dalam aspek epistemologi, jaina menolak pandangan carvaka bahwa persepsi hanyalah satu-satunya sumber valid munculnya pengetahuan. Jika kita menolak kemungkinan memperoleh pengetahuan benar melalui inferensi dan testimoni orang lain, kita semestinya meragukan validitas persepsi, karena sekalipun persepsi kadang-kadang bisa bersifat ilusi. Padahal carvaka sendiri memakai inferensi (anumana) ketika mengatakan bahwa semua inferensi adalah invalid, dan juga ketika mereka menolak eksistensi objek-objek karena mereka tidak dilihat. Disamplng persepsi, jaina menerima inferensi dan testimony (sabda) sebagai sumber pengatahuan valid. Inferensi menberikan pengetahuan valid ketika ia mengikuti kaidah-kaidah logis yang tepat. Testimoni valid ketika ia merupakan laporan otoritas terpercaya. Atas otoritas ajaran-ajaran orang-orang sucu yang telah terbebaskan (jaina atau tirthankara) orang-orang pengikut ajaran ini mendapatkan pengetahuan yang benar yang tidak dapat diperoleh oleh orang yang masih terbatas. Testimoni Tirthankara ini tidak diragukan lagi ke-validan-nya. namun sebenarnya ajaran agama jaina memiliki wrata(janji) sebagai ajaran intinya, yaitu.
1. mengutamakan ahimsa
2. jujur dalam segala hal
3. dilarang mencuri
4. tidak menyayangi harta benda
5. bertarak seumur hidup( kini hanya untuk pendeta)
6. pantang menghargai segala barang yang fana, termasuk pakian.
Dan juga agama jaina mamiliki triatna:
1. percaya pada mahavira terakhir.
2. mengkaji segal ajarannya.
3. berkelakuan benar.
Karena agama jaina tidak mempunyai tuhan maka, setelah mahavira meninggal dunia pada tahun 527 SM, maka para pengikut agama jaina mulai kehilangan arah. Sempat pada awal-awalnya mereka kembali kepada tuhan-tuhan orang hindu, namun karena seiring dengan berjalannya waktu mereka menetapkan mahaviralah tuhan mereka bahkan patungnya mereka sembah.
Didalam perkembangannya, jainisme pecah menjadi dua sekte, yaitu swetambara atau (yang berpakaian putih) dan dirgambara atau (yang berpakaian langit). Perbedaannya adalah hanya dalam beberapadetail ajaran dan praktek agama yanga bersifat minoritas. Secara fundamental tidak ada perbedaannya. Pecahnya menjadi dua sekte tersebut tidak berpengaruh kepada jainisme yang esensial. Dirgambara lebih keras dan sangat fanatik, sementara swetambara lebih akomodatif. Aturan agar berpakaian putih atau telanjang bulat hanya berlaku bagi pendeta tertinggi dan bukan untuk orang kebanyakan; tidak juga bagi pendeta yang rendah. Menurut swetambara, pendeta tertinggi harus mengenakan jubah putih, sementara menurut dirganbara, mereka harus tidak mengenakan kain secarikpun. Menurut sekte dirgambara mereka harus mempertahankan hidup pertapa yang sempurna, tidur hanya tiga jam sehari, makan dari meminta-minta, susah waktunya untuk belajar dan mengajar, dari wanita tidak dapat mencapai pembebasan: sementara swetambara menolak pandangan ini. Kehidupan kependetaan dirgambara sangat keras dan ketat didalam hal disiplin. Karenanya pengikutnya sangat kecil jumlahnya.

D. KITAB SUCI AGAMA JAINA
sumber-sumber suci dikalangan para pengikut agam jaina adalah pidatdo-pidato mahavira. Kemudian pidato-pidato mahavira ini diteriam oleh para pengikutnya seperti para murid-muridnya,orang-orang arif,pendeta-pendeta dan para ahli ibadah. Sumber kepustakaan suci ini diturunkan dari generasi ke generasi secara lisan. Lalu dikarenakan takut ajaran-ajarn ini hilang dan bercampur dengan ajaran-ajaran yang lain maka pada abad ke-4 SM namun ada juga yang menyebut pada130 SM, para penganut jaina mengadakan pertemuan dibandar patli putra, untuk mengumpulkan naskah-naskah suci untuk dijilid manjadi satu. Dan kemudian kitab suci ini diberi nama siddhanta, yang menjadi ajaran pokok agama jaina. Dan bahasa yang digunakan dalam kitab ini adalah bahasa ardha majdi atau prakit. Namun bahasa tersebut hanya digunakan pada abad-abad sebelum masehi, setelah masehi untuk menjaga isinya kitab tersebut diganti bahasanya menjadi bahasa sansekerta.
Sedangkan kitab siddhanta sendiri terdiri dari 12 anggas sebelumnya, semua itu adalah himpunan yang terdiri dari pidato-pidato mahvira. Namun anggas yang kedua belas telah lenyap sampai kini,tidak bisa diketemukan lagi. Namun tentang jumlah anggas seluruhnya, yang merupakan bagian dari kitab suci dijumpai perbedaan pendirian diantara sekte-sekte didalam agama jaina itu. Seperti sekte digambara mengakui ada 80 anggas dari bagian kitab suci agama jaina sedangkan sekte swetambara mengakui hanya 45 anggas saja. Sedangkan gerakan reformasi agama jaina hanya 33 anggas saja.

KESIMPULAN
Jainisme adalah salah satu ajaran paham jaina di india, yang golongkan ke dalam nastika (heterodoks) karena tidak mengakui otoritas veda. Tradisi yang dikembangkan adalah heterodoks , atheisme namun spiritual. Pemimpin agama jaina yang paling terkenal adalah mahavira, dia mengajarkan jaina kepada setiap orang dengan cara yang berbeda dengan pendahulunya. Agama jaina sendiri memiliki kitab suci yang bernama siddhata dan agama jaina pada masa-masa terakhir pecah menjadi dua golongan besar dan satu golongan pinggiran, yaitu swetambara, dirgambara dan gerakan reformasi agama jaina.

DAFTAR PUSTAKA
El Marzdedeq, Parasit Aqidah, 2008, PT Sygma Examedia Arkanleema, Bandung. 72-73.
Shalaby ,Prof. Dr. Ahmad, Perbandingan Agama: Agama-Agama Besar Di India, 2001, PT. Bumi Aksara, Jakarta
Souyb, Joesoef, Agama-Agama Besar Di Dunia,1996, Al Husna, Jakarta, 129-130.
WWW. Wikipedia-indonesia. org. id.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar