Sabtu, 09 April 2011

paguyuban pambuka das sanga


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Setiap daerah/wilayah pastilah mempunyai sejarah yang berbeda-beda. Kemudian dari sejarah tersebut akan memunculkan suatu kepercayaan ataupun kegiatan yang bersifat mistis, karena mereka mempunyai tradisi leluhur yang selalu dijunjung tinggi untuk mempertahankan daerahnya. Dalam perkembangannya tradisi ini membentuk suatu komunitas seperti perkumpulan atau paguyuban, guna melangsungkan kegiatan leluhur mereka.   
Masing-masing wilayah itu memiliki pedoman sendiri dalam memahami kehidupan. Khususnya masyarakat jawa yang terkenal dengan klenik atau mistiknya yang kental yang selalu mereka jadikan kiblat hidup, ditaati, dipuja, dan diberikan tempat istimewa dalam hidupnya. Daerah-daerah kejawen biasanya masih menjalankan mistik, meskipun kadarnya berbeda-beda. Wilayah-wilayah tersebut memiliki keunikan tersendiri dalam menjalankan mistik.
Keikutsertaan Belanda dalam menumbuhkan aliran kebatinan dan juga dikarenakan Jawa yang sudah terkenal dengan aroma mistiknya sehingga proses sinkritisisme antar agama pun tidak dapat dihindarkan. Khususnya masyarakat Jawa banyak yang melakukan penafsiran utamanya terhadap Islam yang berkenaan dengan bahasa Arab.  Oleh karena itu banyak ajaran agama yang mereka pahami menurut bahasa mereka sendiri yaitu bahasa Jawa, salah satunya adalah Paguyuban Pembuka Das Sanga.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa Pengertian Paguyuban Pembuka Das Sanga?
2.      Bagaimana Ajaran Paguyuban Pembuka Das Sanga?
3.      Bagaimana Perkembangan Paguyuban Pembuka Das Sanga?
4.      Apa tindakan pemerintah terhadap Paguyuban Pembuka Das Sanga?



BAB II
PEMBAHASAN

Komunitas kejawen yang amat kompleks, telah melahirkan berbagai sekte dan tradisi kehidupan di Jawa. Bahkan, di dalamnya terdapat paguyuban-paguyuban yang selalu membahas alam hidupnya. Paguyuban tersebut lebih bersifat mistis dan didasarkan konsep rukun. Modal dasar dari komunitas ini hanyalah tekad dan persamaan niat untuk nguri-uri (memelihara) tradisi leluhur. Masing-masing paguyuban memiliki “jalan hidup” yang khas kejawen.
Masing-masing wilayah kejawen, juga memiliki “pedoman” khusus yang khas jawa. Masing-masing wilayah memiliki kosmogoni dan mitos tersendiri. Hampir setiap wilayah kejawen, selalu memiliki mitos-mitos yang diyakini. Mitos-mitos tersebut ada yang dijadikan kiblat hidup, ditaati, dipuja, dan diberikan tempat istimewa dalamm hidupnya. Daerah-daerah kejawen biasanya masih menjalankan mistik, meskipun kadarnya berbeda-beda. Masing-masing wilayah memiliki keunikan tersendiri dalam menjalankan mistik.[1]
Menurut catatan resmi dari PAKEM (Pengawas Aliran Kebatinan Masyarakat), dalam perkembangan munculnya aliran-aliran kebatinan yang awal mulanya terpusat di Jawa Tengah ini tercatat tidak kurang dari 103 gerakan kebatinan dan di Sumatera Utara sekitar 96 gerakan yang kemudian berkembang pesat ke seluruh Indonesia. Jawa Tengah sebagai pusat perkembangan aliran kebatinan ini, tidak terlepas dari peran sentral Kerajaan Mataram yang kemudian raja-rajanya dikendalikan oleh pihak Belanda, sehingga dengan bebasnya aliran kebatinan ini bermunculan. Masyarakat jawa melakukan penafsiran agama yang berkembang utamanya terhadap Islam yang berkenaan dengan bahasa Arab, mereka pahami menurut bahasa mereka sendiri yaitu bahasa Jawa. [2]
Paguyuban Pambuka Das Sanga ialah aliran kepercayaan yang merupakan  paguron atau ajaran kebatinan (mistik), yang diucapkan dengan bahasa jawa, yaitu:[3]
Paguyupan      artinya: perkumpulan
Pambuka         artinya: yang pembukaan
Das artinya:      angka nol maksudnya lubang
Sanga              artinya: angka sembilan (9)
Maksud dari kata-kata tersebut adalah suatu organisasi atau perkumpulan yang dapat memberi petunjuk kepada arti dan gunanya lubang sembilan, yaitu dua lubang mata, dua lubang hidung, dua lubang telinga, dua lubang kemaluan (depan/belakang) dan satu lubang mulut, maka jumlah semuanya ada sembilan lubang atau Das Sanga.
Adapula yang yang mengatakan bahwa Paguyuban Pambuka Das Sanga adalah sebuah organisasi bukan suatu aliran kepercayaan yang menyatakan menjadi agama atau menyatakan perkembangan dari sesuatu aliran agama, yang merupakan penggabungan (sinkretisme) antara Budha dan Islam, sebagaimana pernyataan penciptanya, pada waktu mengumumkan nama pembaharuan Paguyuban Pambuka Das Sanga.
Pemimpin ajaran ini adalah seorang janda yang bernama Nyai atau Nyonya Harjosentono berasal dari Ponorogo, Keresidenan Madiun, yang muncul kira-kira tahun 1912. Tentang masalah pendidikan, dia masuk sekolah rakyat 5 tahun dan lulus tahun 1928. Dia menikah dengan seorang juru tulis pabrik gula setempat yang bernama Harjosentono. Tetapi belum lama dia menikah, suaminya (Harjosentono) meninggal dunia, dengan meninggalkan janda Ny. Harjosentono yang sudah diberi pelajaran (wejangan) Ilmu Kebatinan (mistik) yaitu Ngelmu Pambuka Das Sanga. Ngelmu ini mulai diorganisasikan tanggal 23 Februari 1952, didirikan sebagaimana yang telah disebutkan dalam anggaran dasarnya, yang ditulis dengan data pada tanggal 10 November 1951.
Banyak sekali dalam aliran kebatinan menggunakan kata ngelmu, bukannya ilmu. Permasalahan ini juga mengandung mistik karena ilmu itu bersumber pada kebenaran ilmiah, rasional, sistematis, obyektif dan memiliki aturan-aturan tersendiri. Sedangkan ngelmu merupakan konsep pemikiran jawa asli, yang menjadi dasar bukan hanya rasionalitas saja, tapi juga irrasionalitas seperti intuisi. Ngelmu biasanya dicapai melalui laku batin atau rohani, dalam tasawuf jalan ini dikenal sebagai tarekat. Dengan kata lain ngelmu ini lebih sakral dari pada ilmu.[4]
Ajaran das sanga ini diuraikan dengan bahasa Jawa, isinya mengenai asal kejadian manusia, seperti ajaran ilmu kebatinan yang lain yaitu bahwa manusia itu terjadi dari empat anasir : tanah; air; angin; dan api merupakan jasmani; sedangkan rohani adalah hidup yang merupakan badan halus, kalau orang sudah tahu hidupnya yang sejati maka akan tahu hakikat dari manusia atau manusia sejati.
Untuk itu, dalam mengetahui hakikat manusia harus dapat mengatasi atau mepeti (menutup) babahan (lubang) hawa sanga (sembilan), sebagaimana jumlah dan wujud yang telah diterangkan diatas, yang merupakan alat panca indra dan lubang pelepasan nafsu, baik nafsu syahwat ataupun nafsu makan. Dalam kupasan inilah ajaran yang penting dan diterangkan bagaimana cara mepeti(menutuoi) babahan(lubang) yang sembilan (sanga) itu. Semua itu harus dilaksanakan dengan latihan-latihan berani tirakat, mengurangi makan dan tidur; mengurangi nafsu yang timbul dari babahan hawa sanga (lubang yang sembilan) tadi. Sebab lubang sembilan itulah yang menjadi jalan timbulnya segala macam keinginan, yang mengakibatkan timbulnya nafsu angkara murka, lupa kepada perikemanusiaan dan sebagainya, Ny. Harjosentono sendiri selalu tapa atau tarikat dan semedi di dalam sanggarnya, yang ada di belakang rumahnya. Disitu juga merupakan tempat ia memberikan ajaran atau wejangan. Menurut keterangan murud-muridnya, Ny. Harjosentono mempunyai kekuatan gaib (mungkin semacam hipnotisme), hal ini pulalah yang menarik orang, terutama pemuda-pemuda menjadi murid Ny. Harjosentono.[5]
Pada waktu zaman pendudukan Belanda tahun 1948/1949, sebelum pemulihan Republik Indonesia, namanya jatuh, kerena ia mempunyai hubungan dengan adiknya, yang pada waktu itu menjadi pegawai Belanda (NICA). Sesudah Republik kembali pada tahun 1949, Ny. Hardjosentono berkeliling menemui murid-muridnya untuk mengembalikan nama baiknya, untuk menghilangkan celanya. Naka pada tanggal 23 Januari 1952 Paguyuban Pambuka Das Sanga di umumkan kembali.
Sebelum itu, pada tanggal 1 Oktober 1951, betepatan dengan tanggal 1 Syura 1883, sesudah pemulihan Republik (1 Juli 1949), di rumah Ny. Hardjosentono pernah di adakan keramaian dengan menanggap bermacam-macam tontonan (pertunjukan) seperti: Reyog, Ronggeng, Wayang dan sebagainya dengan pernyataan, bahwa Paguyuban Pambuka Das Sanga itu mempunyai dasar Budha dan Islam.
Simbol organisasi ini berupa sapu tangan merah di tengah-tengah ada segi tiga sebagaimana simbol yang terdapat pada organisasi PERMAI perikemanusiaan. Daerah pengaruhnya di Ungaran, Salatiga, Semarang, di sekitar pusatnya (Ponorogo) terutama di Wlingi dan ada juga di Bali. Pengikutnya kira-kira ada 10.000 orang.
Pengikut-pengikut Ny. Hardjosentono yang setia seperti:
1.      Ny. Sugeng Hurbakusumo di Beru (Kalimantan Timur)
2.      Ki Bagus Waspada Akhwan di Bali
3.      Ki Barumo Makteh di Jember
4.      Subardi Hadiwijaya di Lumajang
5.      Kumorhadi dan Mayor Syamsul Islam.
Dalam perkembangannya, banyak pengikut Ny. Harjosentono yang menjadi anggota partai tertentu, sehingga Ny. Harjosentono juga sering terbawa-bawa, sebagaimana waktu Madiun Affair. Dengan demikian organisasi ini sering timbul tenggelam, perkembangan tidak dapat berjalan baik, bahkan kadang-kadang seolah-olah hilang lenyap dari masyarakat.
Perlu diketahui juga bahwa, praktek klenik semacam ini memperlihatkan bahwa pelakunya tersesat, ia sudah dirasuki hasrat rendahan dan kebendaan, serta dipandu oleh dunia kegelapan spiritual. Praktik serupa itu dipandang membahayakan bangsa dan mengakibatkan ketidakstabilan sosial dan dengan demikian ilegal. Menjadi tugas PAKEM untuk memastikan agar aliran atau pribadi-pribadi yang terlibat dalam manipulasi klenik diusut dan menghentikan kegiatan berbahaya mereka. Akan tetapi memilah antara kebatinan murni dengan klenik sama sekali bukan pekerjaan mudah. Islam ortodoks sangat boleh jadi melihat semua mistisme sebagai bid’ah dan mengutuknya sebagai klenik. Beberapa kelompok kebatinan puritan mudah sekali mengecam kelompok lain sebagai penyimpang. Keputusan untuk membubarkan aliran kebatinan dan mengusut anggotanya berada di tangan PAKEM. Biasanya, Pakem baru bertindak jika ada kelompok yang dicurigai telah disusupi oleh komunis; jika praktik-praktik mereka membahayakan tubuh dan menimbulkan kematian. Dalam pandangan Pakem, dinyatakan sebagai klenik jika suatu praktik berpeluang mengguncang tatanan sosial.[6]
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Das Sanga adalah suatu aliran kebatinan yang mengajakan tentang pentingnya mengetahui hakikat manusia yang harus bisa mengatasi atau mepeti (menutup) babahan (lubang) hawa sanga (sembilan), yaitu dua lubang mata, dua lubang hidung, dua lubang telinga, dua lubang kemaluan (depan/belakang) dan satu lubang mulut, sehingga diperolehlah suatu kemulyaan hidup yang sebenarnya. Akan tetapi dalam perkembanganya paguyuban ini tidak bertahan lama karena banyak anggotanya yang terlibat dalam bidang politik.




DAFTAR PUSTAKA

Endraswara, Suwardi. Mistik Kejawen. Yogyakarta: Narasi, 2006.
Hamka, Perkembangan Kebatinan di Indonesia. Jakarta: Bulan Bintang, 1990.
Kartapradja, Kamil. Aliran Kebatinan dan Kepercayaan di Indonesia. Jakarta: Yayasan Masagung, 1985.

Mulder, Niels. Mistisisme Jawa, Ideologi di Indonesia. Yogyakarta: LKiS, 2007


[1] Suwardi Endraswara, Mistik Kejawen, (Yogyakarta: Narasi, 2006), 5.
[2] Hamka, Perkembangan Kebatinan di Indonesia, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990), 1
[3] Kamil Kartapradja, Aliran Kebatinan dan Kepercayaan di Indonesia, (Jakarta: Yayasan Masagung, 1985), 122.
[4] Mistik Kejawen.....32
[5] Aliran Kebatinan.......123
[6] Niels Mulder, Mistisisme Jawa, (Yogyakarta: LkiS, 2007), 89.

1 komentar: